see other side of me!
Tulisan ini dibuat dalam perjalanan menuju cizz. Di damri caheum. Maaf kalo sedikit typo atau gak aku edit lg tulisannya. Agar mengalir seperti air, bermuara di laut lepas, biarkan kata itu beriak dengan bebas. Kata yang tidak baik, biarkan menguap tak berarti. Sedang, kata yang baik, biarkan mengkristal menjadi garam yang berkilau :)
Laut, perahu.
Dalam KBBI, sinonim perahu adalah bahtera. Dulu, ketika jamannya bikin puisi di sma, saya suka memakai kata ganti bahtera ini. Yaa..daripada sok-sokan pake bahasa “mahligai” #ceile atau “sakinah mawaddah warohmah”. Yaa karena waktu itu belum mengerti jelas arti bahasa arab itu. Just like another basa-basi.
Back to bahtera. Menurutku, kenapa orang2 mengumpamakan bahtera menjadi rumah tangga, karena sebenarnya..banyak sekali terpaan ombak. Entah berupa ancaman atau yang sudah terlihat. Ombak/cobaan akan sangat menentukan, apakah perahumu masih akan terus melaju atau tenggelam. Namun, ketika ombak itu bisa diatasi, maka skill melautmu akan meningkat. Begitu seterusnya, sampai kau akan menguasai perahunya dan siap mengarungi lautan ini :) dengan bagaimanapun ombak yg dihadapi.Namun, layaknya perahu dilautan (bukan di pasar apung sungai kalimantan) perahumu hanya sendirian. Kamu hanya punya orang2 kru kapalmu. Ketika menghadapi ombak, akan lebih baik diselesaikan bersama kru. Bukan mengharapkan kapal lain datang.
Karena hanya kapalmu sendirian yg akan menghadapi lautan, maka sebelum berlayar, pilihlah orang-orang mana yg akan berada di kapalmu. Itulah kenapa, pada tulisanku yang sebelumnya, carilah orang yang melengkapimu. (Makanya aku gak suka kalo orang bilang, carilah pasangan yg berbeda denganmu, perbedaan itu indah. Taik. Kalo beda banget tapi gak bisa saling melengkapi, boro2 narik jangkar..jangkarnya dimana naronya aja udah beda pendirian)
Balik lagi soal kru yg di perahu, perhatikan. Jika kamu buta arah, cari yang bisa navigasi. Jika kamu bisa menarik layar, cari yang bisa mempertahakan kemudi. Sebab, ada hal yang kadang harus dilakukan bersamaan. Semisal orang tuaku, jika salah satu boros, maka yang satu harus bisa mengantisipasi, mengingatkan, dan memprediksi. Jika yang satu keras kepala, maka yang satunya harus pintar mencatat, pintar mengingat, pintar berkomunikasi, dan pintar membuktikan. Sampe kadang aku suka mikir, apa ibuku gak cape yaa.. Tp semakin dewasa aku juga mengerti, bahwa ada juga sisi dimana seorang ibu sangat plinplan dalam memilih satu keputusan, saat dimana sifat primitif dari seorang perempuan adalah manja muncul, saat dimana wanita butuh yg dibanggakan. Saat itulah suami berperan. Makanya seboros apapun sekeras kepala apapun ayahku, ibuku tak pernah capek. Mungkin sebagian kebahagiaanya berasal jika ayah tertawa ketika ia mulai melucu. Haha. That’s why we’re a happy family who can’t respect each other with a hug or tears. :’)Balik lagi ke bahtera, maka, sudah merasa siap dengan kru? Sebab, laut itu luas dan berpikirlah tak ada yg bisa menolongmu selain kru perahu :)
Jika sudah siap, perhatikan…timing yg tepat untukmu melaut. Tentukan arah, prediksi bahaya, dan biarkan perahumu mengalir. Bersifat fleksibel. Semua tidak harus selalu sesuai rencana. Meleng dikit gak papa. Asal jangan stress sendiri. Sebab karang tak bisa kita prediksi. Karang tak ada di peta :)Punya sekoci adalah pilihan. Sekoci bukan pasangan simpanan. Atau mantan yang selalu sedia setiap saat. Sekoci adalah semangat untuk membangun hidup kembali.
Siapkan sekoci dua atau lebih untuk anak-anakmu. Perlahan, jika sudah tidak bisa dipertahakan, kita akan berlayar menuju arah yang berbeda. Jangan meninggalkan salah satu di kapal yang pasti tenggelam.
Last but not least, jangan pernah takut untuk melaut :) hanya karena banyak perahu tenggelam ditelan ombak, banyak perahu menabrak karang, banyak perahu yang mengeluarkan sekoci. Tapi, banyak juga perahu yang telah menjelajah indahnya dunia :) sebab, semakin banyak pengalaman..manusia akan semakin banyak mensyukuri hidup. Tuhan tak ingin engkau tak bahagia dengan kesempatan hidup yang telah Ia berikan :)Cuma pengen nulis, dan ingin tahu, apakah teman-teman pernah berfikir kesana.
Namun, layaknya perahu dilautan (bukan di pasar apung sungai kalimantan) perahumu hanya sendirian. Kamu hanya punya orang2 kru kapalmu. Ketika menghadapi ombak, akan lebih baik diselesaikan bersama kru. Bukan mengharapkan kapal lain datang.
Karena hanya kapalmu sendirian yg akan menghadapi lautan, maka sebelum berlayar, pilihlah orang-orang mana yg akan berada di kapalmu.
:’)
-
qorrienurulqisthi reblogged this from iccao and added:
Namun, layaknya perahu dilautan (bukan di pasar apung sungai kalimantan) perahumu hanya sendirian. Kamu hanya punya...
-
iccao posted this